Perspektif Wimar – ANTV
Host: Wimar Witoelar (WW)
Co Host: Melissa Karim (MK)
Tamu: Don Bosco Salamun – Anggota KPI (DB)
Tanggal: 5 Juni 2008
————————————————————-
DB: Selamat Pagi
WW: Wah saya melihat seorang legenda. Karena pada waktu saya adaurusan dengan televisi kecuali nonton, saya melihat pak Don Bosco telah menjadi pimpinan salah satu tv swasta terbesar. Saya ikuti, saya begini-begini terus sedangkan pak Don Bosco terus berkarya di beberapa stasiun televisi bahkan telah mejadi anggota Komisi Penyiaran.
DB: Saya justru sedang berhadapan dengan seorang legenda
MK: Saya yang beruntung duduk dengan dua orang legenda
WW: Pujian memancing pujian balik. Secara jujur saya senang bahwa karena komisi Penyiaran ini diisi dan dijabat oleh orang-orang yang memang mengerti tekevisi. Jadi kita merasa aman krn regulasi perlu tapi kalo oleh orang birokrasi saja, itu kita gak suka Tapi setelah saya bilang seneng, saya juga sebenarnya gak tau pekerjaan KPI itu. Jadi apa sebetulnya pekerjaan KPI Pak Don Bosco?
DB: Menurut undang-undangnya bang Wimar KPI itu merupakan lemabaga Negara independent yang mengatur tentang hal-hal undang-undang penyiaran, dari hulu ke hilir.
WW: Teknis dan konten?
DB: Betul, menurut undang-undangnya. Tetapi dalam prakteknya pemerintah mengatakan “You hanya mengurus isi atau konten saja, saya yang mengurus infrastruktur dan perijinannya”. Kira-kira begitu. Maka dari itu KPI pernah berselisih dan sempat masuk ke Mahkamah Konstitusi, untuk menguji kewenangannya, dan kemudian juga sampai ke Mahkamah Agung untuk menguji peraturan dari pemerintah yang isinya hanya mengawasi isinya saja, krn infrastrukturnya ada di tangan pemerintah.
WW: Ok, KPI itu konten, jadi yang mengurus konten itu KPI.
DB: Ya, menurut pemerintah sekarang
WW: Kalau hal lain yang teknis, dari pemerintah itu Menkominfo?
DB: Ya, Menkominfo
MK: Jadi perijinannya oleh Menkominfo?
DB: Perijinan kita ada dua, sebenarnya KPI itu kewenangannya memperoleh perijinan dari KPI, tanpa tiket itu sebuah lembaga penyiaran tidak mungkin terus maju untuk memperoleh ijin. Jadi setelah dari kita itu ada semacam public hearing untuk mendengar apa komitmen atau janji mereka setelah mendapat ijin penyiaran.
WW: Ijin itu sekali jadi, atau setelah diijinkan harus direview lagi?
DB: Setelah diijinkan, akan direview. Jadi akan dilihat selama satu tahun, jika setahun mereka berjalan tidak sesuai dengan yang mereka janjikan dalam public hearing, itu bisa diambil lagi karena frekwensinya kan milik negara.
WW: Nah, itu dia frekwensi milik negara, walaupun stasiunnya milik pemodal.
MK: kalau masalahkonten yang adalah tanggung jawab KPI, sejauh mana pergerakan KPI dalam memonitor atau meluluskan, atau menggagalkan suatu konten dari tv itu?
DB: KPI itu mempunyai kewenangan untuk memantau dan mengawasi seluruh isi siaran, semua tv. Dan pemantauan oleh KPI itu dilakukan oleh masing-masing commisioner. Orang seperti saya dikasih dana sedikit untuk memantau khusus siaran untuk anak-anak. Ada commisioner lain, dibantu oleh tim, yang hanya memantau siaran iklan, ada juga Commisioner yang khusus memantau siaran infotainment.
WW: Ini tidak termasuk tv luar negeri?
DB: Tidak termasuk, tapi kalau TV berlangganan termasuk diawasi.
WW: Siapa yang mengawasi tv talk show?
DB: Yang mengawasi tv talk show itu kita bersama-sama dengan Dewan pers. Jadi segala yang berbau berita, diawasi oleh KPI dan Dewan Pers. Jadi tidak bisa melangkah sendiri-sendiri. Kenapa? Karena yang namanya news itu sesedikit mungkin diintervensi, atau diberi kebebasan jauh lebih besar.
WW: Bagus-bagus
MK: Kalau Perspektif Wimar ini termasuk acara news dong pak?
DB: Betul, jadi kalau ada yang kita anggap tidak beres tidak bisa dihandle oleh KPI sendiri.
WW: Jadi walau sifatnya entertainment begini, kita masih dianggap kategori news ya?
MK: artinya kalau termasuk news, teman-teman Bapak Ibuk Dewan Pers juga menyaksikan. Jadi jangan kemana-mana ya, tetap di Perspektif Wimar
Break
WW: Kita senang ada pengaturan tapi juga gak gitu senang diatur, gitu ya? Tapi kalau yang mengaturnya itu benar, jadi asal kitanya benar, itu kita selamat. Nah, jadi kita tanya ini, yang dianggap benar dalam satu acara TV, apa kita harus sopan atau boleh begini (bergaya-gaya)?
DB: TV adalah acting, TV adalah drama, TV adalah gambar, apakah itu news tapi ujung-ujungnya adalah bagaimana menyampaikan pesan dengan cara menarik. Biasanya walaupun pesan sebesar apapun kalau disampaikan secara menarik biasanya orang akan pakai itu. Maka pengawasan untuk tv sebetulnya tidak terlalu banyak kecuali hal-hal yang. Sebetulnya inti dari pengawasan itu maksudnya untuk melindungi publik dari tayangan yang seperti pornografi, kekerasan atau violence, terutama yang harus kita lindungi itu adalah anak-anak, dan remaja. Kalau dewasa itu sudah bisa memilihlah, sudah bisa memindahkan channel. Tapi kalau anak-anak itu adalah kertas putih yang snagat rentan untuk meniru semua tontonan. Kebetulan saya juga mengkaji tayangan anak-anak begitu banyak frame atau tayangan yang sebetulnya berbahaya, bermasalah.Yang bisa kita katakan kepada penonton dirumah, bapak-bapak ibu-ibu jangan membiarkan anak-anak nonton sendirian dirumah, satu; Kedua, bapak-bapak ibu-ibu jangan biarkan anak- anak menonton tv lebih dari 3 jam sehari. Kita bisa mengawasi ini tapi tidak bisa menangani semuanya karena ribuan jam tayang yang harus kita pantau.
WW: Terus apa hubungannya, tentu beda dengan rating, tentunya orang televisi kalau menayangkan acara yang agak galak yang agak seksi bukannya jahat tapi hanya untuk mencari rating saja ya. Sejauh mana KPI mengakui keabsahan rating itu?
DB: Kalau bisa digambarkan, rating sebenarnya tidak menggambarkan kualitas. Saya lebih percaya bahwa sebuah program yang brandnya bagus atau masuk top of mind orang, itu mungkin lebih baik.
WW: Brand itu apa contohnya?
DB: Sebuah program yang bermerek. Misalnya katakanlah program Perspektif Wimar, atau kalau di Metro TV ada Kick Andy, itu brand. Orang selalu sebut Metro itu Kick Andy, atau Kick Andy itu Metro. Atau misalnya kami dulu di Liputan 6 penyiarnya si ini, penyiar ini adalah Liputan6. Jadi bisa program dan bisa pemandu atau penyiar.
WW:Bisa penyiar bisa pemandu.
DB: Ya, Anda tau kan bahwa penonton kita itu tau Host Center. Jadi sebetulnya pemandu itu pemegang peranan penting. Jadi untuk penonton kita itu melekat satu sama lain.
WW: Jadi rating itu dipakai tidak dalam pekerjaan KPI?
DB: kita tidak menggunakan rating dalam pekerjaan KPI. Yang kita gunakan adalah tontonan yang pertama yang kita anggap inspiring, itu akan menjadi perhatian kita. Kedua, yang bertentangan dengan inspirasi publik. Adalah tontonan yang menimbulkan damage untuk publik. Kita hanya memperhatikan itu sehingga rating itu tidak pernah kita perhatikan. Kemudian ketika industri itu sendri berkejar-kejaran untuk rating, itu banyak yang frustasi untuk mengejar rating itu. Ada program baru tapi ratingnya cuma 1 atau 2.
WW:Mengapa rating itu suka tidak mereflesikan apa yang terbayang oleh orang?
DB:Ketika saya di televisi, di Liputan 6, kami mengadakan survey apakah benar Liputan 6 itu nomor 2 dibandingkan program tv yang lain, ternyata nomor 1. Setelah diteliti, kita minta AC Nielsen sendiri untuk meneliti ternyata Liputan 6 itu memang nomor 1. artinya apa? ada hal yang secara metodologis yang mungkin masih perlu dipertanyakan. Walaupun orang bilang mereka sudah internasional tapi masih ada hal yang tidak pernah kita dapatkan sekarang ini adalah adanya margin error dari penelitian mereka. Kemudian ketika ditanya bagaimana teknisnya, adalah dipasang people meter, nah dimana saja dipasang people meter itu, kan kita tidak bisa ikuti.
MK: Bapak kan KPI, dimana sih pak pasang people meter di Indonesia? Itu misteri terbesar di Indonesia.
DB: Dulu kita sudah mau membiayai orang untuk mencari siapa orang yang pernah kerja di situ dan sudah dipecat dari AC Nielsen untuk tau dimana dipasang people meter itu tapi menurut mereka itu rahasia.
WW: Tapi kalau itu rahasia, kenapa orang percaya?
DB: Karena ini lembaga satu-satunya. Makanya pemerintah dan kita sedang merencanakan untuk membuat rating alternatif. Metodologinya mungkin beda. Jadi kita lagi cari institusi yang bener-benar kredibel untuk menjadikan ini sebagai pembanding. Begitu kira-kira.
WW: Bapak pernah beberapa kali jadi pimpinan stasiun bahkan menurut gosip luaran mungkin akan menjadi lagi. Nah sebagai eksekutif stasiun, bukan sebagai komisi apa, sebesar apa bobot yang anda berikan untuk rating dibandingkan pada brand tadi?
DB: saya akan memberikan brand lebih penting daripada rating. Karena saya pernah mengalami betapa beratnya untuk setiap produser dan executive producer saya, setiap minggu stress untuk melihat share dan ratingnya berapa. Dan nasibnya ditentukan oleh share dan rating. Bukan hanya programnya tetapi juga nasib produsernya ditentukan oleh share dan rating. Termasuk gajinya, fasilitasnya. Sementara hasil penelitian kualitatif memperlihatkan bahwa program yang dibikin itu bagus. Nah sekarang mana, tinggal anda percaya rating atau percaya yang ini, atau harus dua-duanya. Tapi saya rasa sulit untuk memilih dua-duanya.
WW: Ya karena setiap kali ketemu orang selalu bilang bagus, tapi barangkali orang bohong, tapi saya bukannya mau bicara soal program ini, tapi banyak yang begitulah, di luar negeri juga. Makanya sekarang banyak BBS, ada public broadcasting station. Tapi kalau ratingnya rendah kan teorinya itu mencelakakan stasiun karena nanti sponsornya, iklannya kurang. Tapi kalau ada acara ratingnya rendah tapi sponsornya banyak, itu kenapa?
DB: Saya pernah kerja di Metro 2 tahun. Dan itu memperlihatkan tanpa rating yang bagus pun tapi iklannya lebih dari memadai. Itu artinya ada penonton yang menurut saya tidak tergantung dari rating dan ada pengiklan yang tidak membutuhkan rating. Tapi lebih membutuhkan kualitas dari sebuah program. Bagaimana bercerita sebauah tv publik yang menjangkau publik seluruh Indonesia tapi sharenya hanya 3. Kalau misalnya hanya di 5 kota saja sih masuk di akal, tapi kalo di seluruh Indonesia sebetulnya tidak terjangkau. Jadi kita harus melihat bahwa ada penontonnya. Jadi rahasianya sebetulnya selama tidak transparan mengenai people meter itu sebetulnya berat.
WW: Kalau iklannya banyak, lalu ratingnya diperlukan untuk apa pak?
DB: Kalau iklannya dengan program yang bagus, sebetulnya tidak diperlukan apa-apa. Yang jadi soal itu kan bahwa teman-teman dari maketing atau sales jadi lebih mudah untuk menjual, saya punya rating dan share sekian. Tetapi kalau dia punya knowlegde untuk sebuah program, program ini bukan karena rating ya, tapi misalnya dapat menjelaskan bahwa program ini begini, memiliki segmen penontonnya kelas a, maka orang akan pasang iklan mobil yang untuk kelas a.
MK: Nah, saya tau apa yang sebetulnya untuk membandingkan antara rating atau brand, yang dibutuhkan adalah kebijaksanaan.
WW: ya betul
MK: Tapi kita akan lanjutkan setelah pesan-pesan berikut ini.
Break
WW: Ilmu demi ilmu kita terima dari pak Don Bosco. Betul-betul berguna sekali ya pembicaraan kita dari KPI. Soalnya banyak ilmu-ilmu yang kalau di luar dianggap sakral, tapi kalau ditanya ternyata kok enggak. Rating dianggap segalanya, kok enggak ya. Tapi saya juga mau tanya soal time slot, sebetulnya ilmu time slot itu kira-kira apa? apa acara semacam ini memang bagusnya jam berapa, misalnya jam 6 pagi, atau jam 11 malam, terus yang pagi harusnya acara apa, kira-kira bagaimana pembagian waktunya?
DB: Time slot itu kan selalu, morning time itu selalu menjadi prime time. Acara ini juga cocok untuk pagi hari, atau dia harus late prime time yaitu jam 10 malam. Orang harus bisa menonton sesuatu dimana mereka bisa bawa itu dalam pikiran.
WW: Kalau jam 11 malam itu masih prime time?
DB: Masih late prime time. Lalu kemudian day time biasanya itu untuk ibu-ibu. Kemudian evening time itu untuk anak-anak. Tapi ada hal yang tidak enak sebetulnya karena ada beberapa tv itu menayangkan acara dari jam 4 sore sampai jam 12 malam. Itu tidak sehat. Pertama itu menyita waktu banyak anak-anak. Dan kedua juga bisa damage bagi stasiunnya itu sendiri. Mungkin itu bisa dimengerti karena lifetime dari program itu makin pendek. Tapi ya orang harus mempertimbangkan kenyamanan publik untuk menonton. Ini kan keliatannya sudah tidak ada lagi head to head dengan apa-apa, dia pasang saja dari jam 4 sore, dia stay dan pergi, trus datang lagi.
WW: Jadi bagaimana pak. Saya juga tidak setuju itu pak. Inikan subyektifitas saya ya, banyak acara bagus yang saya tidak suka ya.
DB: Bukan acara bagus tapi tidak suka, tapi mungkin menarik tapi tidak suka.
WW: Kalau acara itu memang laku, ya biar saja. Jadi alasan untuk mengatakan itu tidak bagus apa?
DB: Tapi fungsi kita orang KPI ini untuk menjaga atau melindungi publik, itu harus kita lakukan. Misalnya tayangan anak, saya melakukan kajian pada tayangan anak dan itu ada 13 kesalahan dalam mengkomunikasikan verbal maupun non verbal. Itu tayangan yg berkaitan dengan kekerasan, kemudian ada tayangan yang menggunakan benda tajam, senjata. Lalu ada tayangan yang memberi contoh yang membahayakan anak. Misalnya kartun itu berjalan di pinggir jurang, atau kartun itu melompat sejauh 200 meter, itu beyond imagination tapi bisa ditiru. Ada juga kartun yang sebetulnya tidak untuk anak-anak. Saya harus menyebutkan disini misalnya Naruto itu bukan untuk anak-anak. Kemudian ada kata-kata kasar. Kalau bang Wimar sekarang suka dengar, anak-anak disuruh bapak ambilkan minum, dia bisa bilang, lho saya kan bukan pembantu; lu kan punya kaki.
MK: itu kan karena kebanyakan nonton sinetron itu pak
WW: saya pernah ada pengalaman seperti itu. Anak baik-baik sekonyong-konyong jadi monster.
DB: Dan itu tidak hanya terjadi di Jakarta, kemudian kata-kata ini juga ditiru oleh orang-orang di luar jakarta. Dan yang lebih menyedihkan ada gambar dimana anak-anak itu memegang maaf, payudara gurunya, ada yang melihat rok gurunya dari bawah. Kartun. Kalau kita melihat dengan teliti, dulu ketika saya belum di tv, saya melihat itu ok-ok saja. Jadi menurut saya harus ada refleksi dari teman-teman untuk melihat kembali tayangan-tayangan ini.
WW: itu kartun dari luar negeri?
DB: luar negeri. Kita tidak bisa berpikir bahwa kartun dari luar negeri sudah aman.
WW: Agak mudah dong membatasinya. Artinya larang saja kan tidak mematikan perusahaan.
DB: Ya agak mudah, memang tapi sering dub dalam bahasa aslinya itu datar saja tapi ketika di-dub ke bahasa Indonesia bahasanya itu bisa jadi hyperbola. Misalnya: kurang ajar, bego, dsb.
MK: Kalau misalnya begitu banyak kewaspadaan dari KPI, sangsi apa yang bisa dilakukan KPI terhadap tayangan-tayangan itu, apakah Bapak bisa mencopotnya dari jam tayang atau bagaimana?
DB: Kita tidak bisa berpretensi untuk membuat larangan sebanyak mungkin. Tapi untuk publik tidak boleh tawar menawar terutama untuk tayangan anak-anak. Jadi kita punya kewenangan pertama untuk mencabut tayangan itu. Kedua untuk menghentikan sementara bahkan menghentikan program. Lalu ketiga memberikan larangan/teguran tertulis, tapi sebetulnya ini tahap yang pertama sekali. Lalu keempat, pada satusaat itu akan berpengaruh apakah dia akan direkomendasikan kembali untuk memperpanjang ijinnya atau tidak. Jadi sebetulnya cukup kuat.
WW: Oh bisa sampai kena kestasiunnya itu sendiri ya?
DB: Benar
MK: Satu lagi pak. Diendorse kalau ada tayangan bagus, ini harus ditayangkan, dan untuk tayangan yang jelek perlu dicopot…
DB: Itu yang pernah kita lakukan melalui KPI Award dimana Bang Wimar jadi salah satu jurinya.
WW: Pak Don Bosco saya senang sekali ini, tapi karena waktunya sudah habis. Saya senang bukan karena saya sependapat tapi karena pak Don Bosco telah memberikan informasi yang berguna untuk publik tapi juga untuk pemilik stasiun.
—-